Kurang Energi Protein

Orang sedang sakit

Penyakit KEP (Kurang Energi Protein) adalah salah satu penyakit gangguan gizi yang terpenting  di negara Indonesia maupun negara berkembang lainnya. Penyakit ini masih dijumpai di Indonesia terutama pada kalangan masyarakat menegah ke bawah.

 Penyakit ini masih dianggap remeh oleh sebagian kalangan yang belum paham mengenai dunia kesehatan, sehingga masih dianggap biasa terjadi pada anak kecil yang sudah mempunyai adik.
 
         Secara Internasional Penyakit KEP diberi nama Calory Protein Malnutrition (CPM), kemudian diganti menjadi istilah Protein Energy Malnutrition (PEM). Penderita KEP mempunyai bentuk-bentuk keadaan antara lain sebagai berikut :

1.    Marasmus 

Marasmus berasal dari Bahasa Yunani yang berarti membuang. Marasmus yang terjadi pada balita ekuivalen dan busung lapar pada orang dewasa. Adapun ciri-ciri klinis yang sering dijumpai penderita Marasmus pada anak usia balita :

1.    Otot lemah dan lunak
2.    Merasa lapar dan cengeng
3.    Wajah tampak tua (monkey face)
4.    Gagalnya pertumbuhan
5.    Sering disertai penyakit : infeksi, umumnya kronis dan berulang
6.    Sering terjadi pada usia bayi- 12 bulan

2.    Kwashiorkor 

Merupakan keadaan yang terjadi akibat pengabaian oleh seorang Ibu pada buah hatinya karena kewajibannya menyusui anaknya yang lain. Cicely Williams mencatat kejadian pada penderita kwashiorkor pada tahun 1906 di Jerman, tahun 1924 di Indonesia-cina dan Afrika timur pada tahun 1928.  Ciri-ciri klinis yang dialami penderita penyakit kwasiokor pada balita :

1.    Otot lemah, lunak
2.    Sukar diberi makan dan cengeng
3.    Wajah bulat (moon face)
4.    Pertumbuhan terhambat
5.    Gejala anemia dan defisiensi nutrient
6.    Biasa terjadi pada anak usia 1-3 bulan

3.    Marasmus Kwashiorkor

Kondisi dimana terjadi defisiensi baik kalori maupun protein dengan penyusutan jaringan yang hebat, hilangnya lemak subkutan, dan biasanya dehidrasi. Marasmus-kwashiorkor merupakan campuran dari beberapa gejala marasmus(sangat kurus:BB/TB ≤3 SD) dan Kwashiorkor (disertai edema yang tidak mencolok pada kedua punggung kaki).

a.    Akibat Dari KEP
      KEP dapat menyebabkan fungsi organ, seperti :

1. Organ pencernaan

Sel pankreas dan mukosa usus mengalami atrofi dan penurunan kemampuan menyekresi enzim-enzim pencernaan. Sedangkan biopsy specimen dari mukosa usus menunjukkan jumlah enzim-enzim khusunya disakarida, laktase, sakarase dan maltase mengalami penurunan drastic pada penderita KEP (Cook dan Lee, 1966 ; James, 1968).

2. Hati
Pelemahan hati dapat dididentifikasi pada penderita kwashiorkor. Pada tahap awal, terjadi akumulasi lemak di sel hati yang berada di tepi lobus, kemudian terjadi peningkatan jumlah dan meluas dari tepi lobus hingga ke tengah lobus. Dalam kasus yang fatal, semua sel hati akan terkena lemak yang mengakibatkan tekanan inti sel dan menurunkan kadar sitoplasma hati.

3. Organ endokrin

 Tidak ada bukti tentang hipofungsi primer dan kelenjar endokrin penderita KEP. Namun, penigkatan konsentrasi hormone pertumbuhan terjadi pada penderita kwashiorkor (Dlimstone, et.al.,1966)

4.  Sistem Kardiovaskular

Atrofi pada jantung ditemukan pada penderita busung lapar, terlihat pula pada hasil autopsy dan radiograf yang dilakukan pada anak-anak yang menderita KEP kronis. Atrofi jantung ini dapat mengakibatkan penurunan cardiac output dan menghambat sirkulasi darah, dan gejala ini akan berpotensi meningkatkan angka kematian.

5.  Ginjal 

Kerja ginjal mengalami penurunan, yang mungkin terjadi akibat depresi fungsi tubulus yang terjadi akibat defisieni elektrolit. Hal initidak akan menjadi komplikasi bagi penderita KEP dan tidak  akan menyebabkan edema.

B. Pencegahan KEP
 
            KEP pada anak balita dapat dicegah dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1.    Pemberian ASI secara tepat dan pengawasan BB secara teratur
2.    Menghindari pemberian makanan buatan untuk pengganti ASI sepanjang Ibu mampu menghasilkan ASI
3.    Pemberian makanan tambahan yang mengandung berbagai zat gizi lengkap sesuai kebutuhan
4.    Melakukan Imunisasi
5.    Mengatur jarak kehamilan agar ibu cukup waktu untuk merawat dan mengatur terutama pemberian ASI


C. Penanggulangan KEP

            Pada masa rehabilitasi ini yang dapat dilakukan adalah :
1.    Pemberian zat gizi mikro dengan Fe
2.    Tumbuh kejar
3.    Simulasi
4.    Persiapan Tindak Lanjut

0 Response to "Kurang Energi Protein "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel